Klik Aja

Monday, November 5, 2012

"Tombok" Sang Penunggu Kantor Desa



Krens Lotim. “Tombok” sebutannya begitu. Nama aslinya Nursiah. Seorang pria tua penunggu kantor desa yang sepanjang malam menghabiskan waktunya untuk menjalani tugas  yang telah diberikan kepadanya. Separuh hidupnya ia jalani sendiri tanpa seorang istri  dan seorang anakpun. Kehidupan pribadinya yang serba kekurangan menjadikannya begitu memprihatinkan. Ia terkadang diantarkan makanan ke kantor desa tempat ia diberi tugas atau berkeliling ke sanak keluarga sekedar untuk mengisi perut ketika lapar mulai menjelma. Kantor Desa Rensing Raya yang ia tempati, disudut ruang kecil beralaskan tikar daun pandan, tiap malam tertidur berteman angin malam yang gerah atau dingin, berselimut sepi hanya sepi menemani.

Kehidupan Tombok yang kian tidak menentu, kala ia lelah terkadang membuatnya tertidur dimana saja ia mau. Namun yang perlu kita tiru, sedikitpun ia tidak pernah mengeluh atau berputus asa. Penghasilan yang diberikan dari desa sekedarnya, ia terima dengan syukur dan selalu menjalankan tugasnya dengan baik. Ia memang pernah kawin, akan tetapi dari perkawinannya ia tidak mendapatkan anak dan perkawinannya tidak langgeng. Entah apa sebabnya dari lima kali ia melangsungkan perkawinan, semuanya berakhir dengan perpisahan. Kini ia hidup sendiri meski ia tiada merasa rendah diri. Ia tetap semangat dan mau berbuat setidaknya untuk desanya. ( SZ)

Penting Shobat!

Monday, November 5, 2012

"Tombok" Sang Penunggu Kantor Desa


Krens Lotim. “Tombok” sebutannya begitu. Nama aslinya Nursiah. Seorang pria tua penunggu kantor desa yang sepanjang malam menghabiskan waktunya untuk menjalani tugas  yang telah diberikan kepadanya. Separuh hidupnya ia jalani sendiri tanpa seorang istri  dan seorang anakpun. Kehidupan pribadinya yang serba kekurangan menjadikannya begitu memprihatinkan. Ia terkadang diantarkan makanan ke kantor desa tempat ia diberi tugas atau berkeliling ke sanak keluarga sekedar untuk mengisi perut ketika lapar mulai menjelma. Kantor Desa Rensing Raya yang ia tempati, disudut ruang kecil beralaskan tikar daun pandan, tiap malam tertidur berteman angin malam yang gerah atau dingin, berselimut sepi hanya sepi menemani.

Kehidupan Tombok yang kian tidak menentu, kala ia lelah terkadang membuatnya tertidur dimana saja ia mau. Namun yang perlu kita tiru, sedikitpun ia tidak pernah mengeluh atau berputus asa. Penghasilan yang diberikan dari desa sekedarnya, ia terima dengan syukur dan selalu menjalankan tugasnya dengan baik. Ia memang pernah kawin, akan tetapi dari perkawinannya ia tidak mendapatkan anak dan perkawinannya tidak langgeng. Entah apa sebabnya dari lima kali ia melangsungkan perkawinan, semuanya berakhir dengan perpisahan. Kini ia hidup sendiri meski ia tiada merasa rendah diri. Ia tetap semangat dan mau berbuat setidaknya untuk desanya. ( SZ)

Penting

Test Footer 2

Prinsip

BANGKITLAH DESAKU. Padamu ku tuangkan segelas tinta tuk perjuangan. berani tumpahkan darah sendiri membelamu. Dengan langkah berani sampai mati. Biar berkalang tanah. Dan itu yang terakhir. Kali ini kami menggores daging-daging kenyal. Yang berbau amis basi. Dan berjalan menelusuri derap langkah perjuangan. Menuju medan perang yang tak terbilang. ( SaifZuhri )

Followers

Total Pageviews

Advertisement

Flickr

PR n/a

tribunolahraga.info-Google pagerank,alexa rank,Competitor

Dari Mana Pengunjung

Footer Widget 1

 

Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com